Menjaga Amal dari Riya dan Sum'ah
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SIKAP ikhlas merupakan ruh dalam beramal, dan sekaligus penentu arah setiap perbuatan seorang hamba. Tanpa keikhlasan, ibadah yang tampak baik secara lahiriyah tidak memiliki nilai di hadapan Allah subhânahu wata’âla. Sebab yang dilihat dari sebuah ibadah bukan ukuran, melainkan seberapa besar nilai ikhlas yang mengiringi. Ibnu Mubârak berkata: Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat. (Sayyid Hasan Al-‘Afânî, Ta’thîrul Anfâs min Hadîtsil Ikhlâs, hlm 73). Ini artinya niat berperan penting dalam setiap perbuatan.
Secara bahasa, ikhlas selalu diartinya dengan murni. Sementara menurut istilah ikhlas adalah memurnikan niat dalam beribadah hanya untuk Allah subhânahu wata’âla semata. Apabila suatu ibadah ditujukan untuk mencari pujian, penghargaan dan penghormataan manusia niscaya ia telah mengotori arti sebuah keikhlasan. Selain ikhlas, dan sebuah amal harus sesuai sunnah. Fudhoil bin ‘Iyadh berkata: Sesungguhnya suatu amal apabila dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, tidak akan diterima; dan apabila dilakukan dengan benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, sampai amal itu menjadi ikhlas dan benar. (Ali As-Shâlihî, Ad-Dhoul Munîr ‘ala tafsîr, 4/173). Jadi dalam beramal seseorang harus memperhatikan dua aspek tersebut.
Allah subhânahu wata’âla menekankan bahwa apapun bentuk ibadah yang dilakukan seorang harus dilandasi nilai keikhlasan.
Allah subhânahu wata’âla berfirman:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ٥
Dan mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah Subhanahu Waatala dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). (QS. Al-Bayyinah [98] 5)
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa kebenaran nilai ajaran agama diukur dari keikhlasan amal. Shalat yang ditegakkan dan zakat yang ditunaikan tiada memberi manfaat sedikitpun dalam kehidupan dunia dan akhirat bila tidak diiringi dengan niat yang ikhlas. Di sisi lain, yang ingin ditekankan bukan sekadar shalat dan zakat, melainkan seluruh amal ibadah seperti sedekah, membantu sesama muslim dan ibadah-ibadah lainnya.
Di samping memperhatikan pentingnya sebuah keikhlasan, seseorang harus menjaga amal ibadahnya dari dua hal riya’ dan sum’ah, sebab keduanya dapat merusakan nilai-nilai ibadah. Secara bahasa, riya’ bermakna melihat, sedang menurut istilah riya’ ialah keinginan untuk memperoleh perhatian, pujian dan penilaian di mata manusia. Pada dasarnya riya’ termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya. Selain dapat merusak amal, riya’ mampu mengubah cara pandang manusia.
Hari ini tak sedikit yang menganggap flexing foto di media sosial sesuatu yang hal biasa, dengan alasan berbagi kebaikan dan keceriaan, menyenangkan hati orang lain, dan menyimpan kenangan-kenangan. Padahal tanpa disadari perbuatan itu sejatinya telah mengubah orientasi seseorang.
Boleh jadi awal aktivitas itu dilakukan hanya sekedar ingin berbagi. Namun seiring berjalannya waktu, foto dan video yang diupload semakin ramai yang melihat, mengomentari dan bahkan memuji, sehingga akhirnya menjadi sebuah runitinas yang tak terelakkan.
Pada tahap ini, rasa ingin disanjung, dipuji, dihormati, dihargai perlahan mulai masuk ke bawah alam sadar, sehingga apapun kegiatan yang dilakukan harus dinaikkan ke media sosial. Ironisnya ibadah yang dilakukan pada sepertiga malam dari luput dari pantauan media. Di sini setan telah berhasil menjebak secara halus. Tanpa disadari sesungguhnya ia telah termasuk perangkap syirik kecil.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللّٰهِ ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً ؟
Dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Riya`, Allah 'azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu yang kamu perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan di sisi mereka?" (HR. Ahmad)
Riya’ tidak berarti seseorang menyembah manusia secara langsung, tetapi ia telah mencampurkan tujuan amal kepada selain Allah Subhanahu Waatala. Karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat mengkhawatirkannya, sebab riya’ dapat menghilangkan nilai keikhlasan dan menyebabkan amal yang secara lahir tampak baik menjadi tidak bernilai di sisi Allah Subhanahu Waatala. Riwayat lain disebutkan, kelak di akhirat Allah subhânahu wata’âla abaikan pelaku syirik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Tabaraka wa Ta'âla berfirman: 'Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukanKu dengan selain-Ku, Aku meninggalkannya dan sekutunya'." (HR. Muslim)
Jadi, dengan demikian riya’ termasuk perbuatan syirik kecil yang dapat merusak nilai ibadah dan mengubah cara manusia bersikap. Selain itu, sum’ah tak kalah lebih berbahaya. Secara bahasa frasa ini bermakna mendengar, sedangkan menurut istilah sum’ah ialah menceritakan amal kebaikan kepada orang lain agar mendapat pujian, sanjungan dan prestise di tengah masyarakat. Riya’ dan sum’ah memiliki tujuan yang sama, yaitu pamer amal. Adapun perbedaan terletak pada cara memberi tahu, riya’ dengan cara melihatkan amal, sedangkan sum’ah menceritakan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللّٰهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللّٰهُ بِهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barang siapa melakukan amal agar didengar (oleh manusia), niscaya Allah Subhanahu Waatala akan memperdengarkan aibnya; dan barang siapa melakukan amal agar dilihat (oleh manusia), niscaya Allah akan memperlihatkan aibnya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan riwayat di atas bahwa sum’ah tidak hanya menjadikan amal sia-sia, akan tetapi salah asbab aib terbongkar. Hal ini disebabkan oleh bergesernya orientasi amal dari mencari keridaan Allah Subhanahu Waatala kepada mencari pengakuan dan pujian manusia. Ketika tujuan utama seseorang adalah membangun citra kesalehan di hadapan manusia, maka ia akan lebih memperhatikan bagaimana amal tersebut terlihat dan terdengar daripada bagaimana kualitas keikhlasannya di hadapan Allah. Padahal, sesuatu yang dibangun di atas kepalsuan pada akhirnya akan terbuka hakikatnya. Oleh karena itu, sum’ah pada hakikatnya bukan hanya merusak nilai amal, tetapi juga dapat menjadi sebab hilangnya kehormatan seseorang ketika Allah Subhanahu Waatala menyingkap apa yang tersembunyi di balik amal tersebut.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ikhlas merupakan unsur terpenting dalam sebuah amal, diterima atau ditolaknya suatu ibadah berbanding lurus dengan niat. Oleh karena itu seorang muslim dituntut untuk senantiasa memurnikan tujuan amal hanya karena Allah subhânahu wata’âla serta menjauhkannya dari riya’ dan sum’ah yang dapat menggeser orientasi ibadah dari mencari keridaan Allah subhânahu wata’âla kepada mencari pujian dan pengakuan manusia.
Riya’ dan sum’ah merupakan penyakit hati yang berbahaya karena tidak hanya berpotensi menghilangkan nilai amal, tetapi juga termasuk bentuk syirik kecil yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, keikhlasan harus senantiasa dijaga, terutama di tengah budaya media sosial yang dapat mendorong seseorang untuk menampilkan amal dan kebaikannya demi mendapatkan perhatian publik. Dengan demikian, ukuran keberhasilan suatu amal bukanlah seberapa banyak manusia melihat, mendengar, atau memujinya, melainkan sejauh mana amal tersebut dilakukan dengan ikhlas karena Allah subhânahu wata’âla dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.***

Tulis Komentar